Tips Memberikan Feedback Untuk Team Lead

T

Paul Green menulis dalam Giving Negative Feedback :

It doesn’t provide the sustenance we need to maintain a positive view of ourselves. And that’s the ultimate irony. The idea behind performance appraisals, and feedback in general, is that to grow and improve, we must have a light shined on the things we can’t see about ourselves. We need the brutal truth. There’s an assumption that what motivates people to improve is the realization that they’re not as good as they think they are. But in fact, it just makes them go and people who will not shine that light on them. It may not be having the intended effect at all.

Saya tidak setuju kalau feedback negatif itu errr selalu negatif dan tidak akan memberikan efek positif kepada yang menerima feedback. 

Hal yang paling penting ketika memberikan feedback – atau validasi, adalah memastikan kalau kita paham tentang value yang diberikan oleh karyawan, dan memberikan rekomendasi bagaimana dia bisa melakukan pekerjaannya lebih baik. Terlepas dari apakah rekomendasi itu berupa kritik ataukah saran merupakan urusan kedua. 

Beberapa hal yang saya pelajari di 5 tahun terakhir tentang feedback : 

  1. Jangan berikan ikan. Micromanaging, memberitahu secara detail kepada tim kamu tentang apa yang harus dia perbaiki, biasanya akan memberikan hasil jangka pendek saja. Dalam jangka waktu panjang ketika kita terus menerus memberikan ikan, kreativitas tim akan tumpul dan ini menciptakan management debt yang harganya akan mahal dibayar di kemudian hari. Selalu berikan kail. 
  2. Komentar sinis bisa jalan – tapi hanya dalam beberapa kondisi. Saya selalu mencoba untuk menerapkan mantra “be kind”, namun terkadang akan datang waktunya di mana memberikan feedback positif (kalau kamu melakukan y, kamu akan bisa lebih baik karena x) tidak efektif lagi, dan tim kamu lebih bereaksi ketika diberikan feedback negatif (kamu salah melakukan y, karena x). Indikator yang baik bahwa feedback negatif kamu itu tulus adalah ketika setelah memberikan feedback negatif kamu merasa kotor. Kalau kamu memberikan feedback negatif dan kamu merasa puas dengan diri kamu sendiri, kamu perlu mengevaluasi apakah feedback negatif itu datang dari performa staff ataukah dari ego diri sendiri. 
  3. Fokus ke strength. Feedback yang fokus kepada meningkatkan strength staff lebih kuat lagi lebih bagus daripada feedback yang fokus kepada memperbaiki kesalahan. 

Satu hal lagi adalah, feedback harus berangkat dari kepedulian kamu terhadap tim. Dan untuk menunjukkan kepedulian itu gak cukup dengan sekali atau dua kali dalam sebulan. Bertemu dengan tim minimal seminggu sekali adalah esensial untuk membuat kamu bisa menjadi team lead yang lebih bagus lagi. 

Tidak punya waktu untuk bertemu dengan tim, seminggu sekali? Ya jangan jadi team lead.

About the author

atmawarin

Interweb enthusiast from Yogyakarta. Love trees, typography, running and single origin. Slightly blurry vision, five foot six, curly black hair. Lion at Mario Kart, chicken at party.

Add comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

By atmawarin

atmawarin

Interweb enthusiast from Yogyakarta. Love trees, typography, running and single origin. Slightly blurry vision, five foot six, curly black hair. Lion at Mario Kart, chicken at party.

Get in Touch