Writing

Be Yourself Even at Work

B

Don’t work too much to picture, because you’ll find yourself drying up. Work off-picture, and then put it onto it. Work as much as you can from impressions. And be selfish about your own experiments that you want to do.

Itu Thom Yorke di interview dengan Variety. Dia menambahkan, “He’ll (Jon Greenwood) come to things a lot of the time because he wants to try an experiment sonically or musically, and he finds that it fits with whatever he’s working on anyway. So I was doing a lot of that, just f—ing around using modular gear and using my voice in ways I wouldn’t normally do that I’d wanted to try for ages.”

Tidak Gagal Bangun Pagi

T

“Keep your face always toward the sunshine – and shadows will fall behind you”.– Walt Whitman

Saya adalah kelelawar. Melek di malam hari untuk lalu tidur hingga siang. Tiap pagi, ajakan selimut untuk tetap meringkuk selalu saya iyakan dengan anggukan dan senyum setuju.

Tapi dalam 2 tahun terakhir ini saya mencoba membangkang kepada yang alami. Menggeser ritme circadian saya menjadi ayam.

Alasannya rupa-rupa. Mungkin karena saya sedang berlatih untuk ikut marathon dan lari malam hari kok rasanya ngeri. Mungkin karena pagi adalah janji tentang ketenangan. Mungkin karena saya termakan janji madu Robin Sharma di 5 AM Book Club. Pendek kata saya cukup bertekad untuk bangun pagi, yang sebenernya cukup mengherankan untuk diri saya sendiri.

Usaha saya lumayan berhasil. Kalau merujuk dengan tracking app yang saya gunakan, sukses ratenya 93%. Rahasianya? Tiga Alarm.

Yip. Tiga alarm. Satu gegabah. Dua kurang. Tiga pas. Lebih dari itu cuma bikin jengkel.

Untuk yang ingin coba bangun pagi juga, ini lumayan manjur dan jitu. Dicoba deh.

Saya sendiri, jujur saja, hingga hari ini, bangun pagi masih tidak nyaman buat saya. Bangun pagi tidak lantas otomatis produktif. Beberapa bulan pertama saya mencoba bangun pagi malah saya lewatkan dengan menonton highlight bola. Waktu tidak mendefinisikan kualitas. Niatan iya.

Saya masih mencoba bangun pagi hari ini. Melakukan yang tidak nyaman. Karena mungkin, mungkin saja, kalau bagian tersulit dari hari sudah saya lalui, sisa hari saya akan jadi lebih mudah.

Memperkecil Dunia

M

Mei itu, ketika Jogja mulai menjadi dingin, muncul pesan di hp saya dari dua orang teman lama. “Yuk bikin startup”. Hmm. Saya membalas pesan itu dan masuk ke dalam grup Whatsapp yang ia buat.

Di luar dugaan, bercakap-cakap di sana menyalakan semacam api dalam tubuh saya. Kami membicarakan rencana, kualitas produk, cashflow, supplier, kompetitor dan saya sepakat bahwa ini adalah ide sangat bisa jadi nyata. Ditambah lagi dengan track record baik dari mereka yang juga adalah teman nongkrong jaman kuliah, keinginan untuk terjun ke dalamnya semakin besar lagi.

Saya yakin siapapun yang pernah bekerja di bidang IT akan selalu bertemu dengan hal yang seperti ini dalam perjalanan karir mereka. Ajakan dan kesempatan untuk lebih baik lagi secara finansial dari orang yang mereka paham. Dan kebanyakan mengatakan iya untuk kesempatan ini – dengan resiko menambah komitmen yang sudah mereka miliki sebelumnya.

Ini adalah potensial jebakan batman menurut saya.

Dalam salah satu interview, David Packard, founder dari Hewlett-Packard menyebut kalau alih-alih kelaparan, lebih banyak organisasi yang mati karena gak bisa menelan.

Yang Packard katakan mengena buat saya, karena saya pernah mengalami ini sebelumnya. Mengatakan iya kepada project yang sebenernya tidak benar-benar membuat saya bisa berkembang, dan mengambilnya karena alasan finansial adalah musibah. Ini terjadi sekitar 2014 atau 2015 silam ketika seorang teman dan pemilik studio WordPress dari Jakarta mengajak untuk membuat ide tentang startup itinerari.

Orang-orangnya oke, projectnya oke di bidang yang saya kuasai waktu itu (reservasi dan travel), namun jujur saja tidak benar-benar resonate untuk saya. Hasilnya? 4 bulan berlalu, saya kehilangan tidak hanya waktu dan uang, tapi jauh lebih buruk dari itu, kepercayan teman.

Saya mencoba memakan lebih banyak dari apa yang saya bisa telan.

Lanjut cerita, saya meminta maaf dan mengatakan tidak kepada tawaran dari dua teman baik saya tadi. Saya yakin mereka akan sukses di startup mereka.

Di era di mana semua orang bisa menjadi apapun, punya dunia yang kecil dan sederhana mengijinkan saya untuk melakukan hal yang paling menakjubkan: benar-benar ada untuk orang-orang paling penting bagi hidup saya.

Rekomendasi app : Notion

R

Salah satu tool yang sering nongol di desktop saya akhir-akhir ini adalah Notion. Notion didesain untuk membantu kamu menyimpan informasi dan mengorganise informasi, membuat rencana, serta berkolaborasi dengan tim di kantor atau teman.

Notion workspace
UX yang sangat menyenangkan untuk digunakan

Notion mirip sekali dengan Evernote, tapi dengan empat kelebihan yang paripurna untuk saya:

  • Markdown dan keyboard shortcut yang sangat intuitive dan mudah untuk digunakan.
  • UX yang sangat sedap di mata.
  • Powerful relational database – mirip dengan airtable.
  • Lebih mudah untuk berkolaborasi.

Menulis dan membuat rencana sangat menyenangkan untuk dilakukan di aplikasi ini. Notion punya beberapa flaw, tapi saya dengan senang hati mentolerirnya karena di Ivan Zhou, notion punya founder yang super product oriented.

PS: Artikel ini ditulis di Notion.

Hal Terbaik di 2018

H

Hal baik, event, pengalaman and orang yang saya temukan, pelajari, ketemu, dan lain dain di 2018. List ini tidak dibuat dengan ordering, dan tidak semua hal adalah hal yang baru. 

Artikel Menarik

  • Everything easy is hard again oleh Frank Chimero. Artikel ini terasa pas sekali dan mengena setelah saya mencoba coding kembali setelah berbulan bulan hiatus. 
  • Why I don’t use my real photo by  Julia Enthoven. Walaupun saya mencoba positive untuk segala macam hal. Saya harus mengakui bahwa men can be utter pig.

(more…)

Tips Memberikan Feedback Untuk Team Lead

T

Paul Green menulis dalam Giving Negative Feedback :

It doesn’t provide the sustenance we need to maintain a positive view of ourselves. And that’s the ultimate irony. The idea behind performance appraisals, and feedback in general, is that to grow and improve, we must have a light shined on the things we can’t see about ourselves. We need the brutal truth. There’s an assumption that what motivates people to improve is the realization that they’re not as good as they think they are. But in fact, it just makes them go and people who will not shine that light on them. It may not be having the intended effect at all.

Saya tidak setuju kalau feedback negatif itu errr selalu negatif dan tidak akan memberikan efek positif kepada yang menerima feedback. 

Hal yang paling penting ketika memberikan feedback – atau validasi, adalah memastikan kalau kita paham tentang value yang diberikan oleh karyawan, dan memberikan rekomendasi bagaimana dia bisa melakukan pekerjaannya lebih baik. Terlepas dari apakah rekomendasi itu berupa kritik ataukah saran merupakan urusan kedua. 

Beberapa hal yang saya pelajari di 5 tahun terakhir tentang feedback : 

  1. Jangan berikan ikan. Micromanaging, memberitahu secara detail kepada tim kamu tentang apa yang harus dia perbaiki, biasanya akan memberikan hasil jangka pendek saja. Dalam jangka waktu panjang ketika kita terus menerus memberikan ikan, kreativitas tim akan tumpul dan ini menciptakan management debt yang harganya akan mahal dibayar di kemudian hari. Selalu berikan kail. 
  2. Komentar sinis bisa jalan – tapi hanya dalam beberapa kondisi. Saya selalu mencoba untuk menerapkan mantra “be kind”, namun terkadang akan datang waktunya di mana memberikan feedback positif (kalau kamu melakukan y, kamu akan bisa lebih baik karena x) tidak efektif lagi, dan tim kamu lebih bereaksi ketika diberikan feedback negatif (kamu salah melakukan y, karena x). Indikator yang baik bahwa feedback negatif kamu itu tulus adalah ketika setelah memberikan feedback negatif kamu merasa kotor. Kalau kamu memberikan feedback negatif dan kamu merasa puas dengan diri kamu sendiri, kamu perlu mengevaluasi apakah feedback negatif itu datang dari performa staff ataukah dari ego diri sendiri. 
  3. Fokus ke strength. Feedback yang fokus kepada meningkatkan strength staff lebih kuat lagi lebih bagus daripada feedback yang fokus kepada memperbaiki kesalahan. 

Satu hal lagi adalah, feedback harus berangkat dari kepedulian kamu terhadap tim. Dan untuk menunjukkan kepedulian itu gak cukup dengan sekali atau dua kali dalam sebulan. Bertemu dengan tim minimal seminggu sekali adalah esensial untuk membuat kamu bisa menjadi team lead yang lebih bagus lagi. 

Tidak punya waktu untuk bertemu dengan tim, seminggu sekali? Ya jangan jadi team lead.

Muji Notebook + Uni-ball Signo UM-151

M

Muji Notebook + Uni-ball Signo UM-151

Saya tidak biasanya membuat tulisan tentang hal yang saya miliki, tapi untuk yang satu ini saya ingin membuat pengecualian. Muji Dotted Notebook + Uniball Signo UM-151 adalah surga.

Duo bolpen dan buku ini bisa melakukan apapun. Menulis catatan, brainstorming, menusuk mata orang, mengaduk kopi, sketching, semuanya bisa dilakukan dengan dengan mulus, mengalir cair. 

PS: Yes, I know the pen looks corny.

atmawarin

Interweb enthusiast from Yogyakarta. Love trees, typography, running and single origin. Slightly blurry vision, five foot six, curly black hair. Lion at Mario Kart, chicken at party.

Get in Touch